SING PENTING HALAL

“Berkah: Berbagi Kisah & Harapan Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak”

“Ati-ati yo le, kerjo ga usah ‘neko-neko’, sak madya wae sing penting halal”, begitu pesen ibuku via telepon di hari pertama kerja dulu tahun 2000. Saat itu aku jawab, “that’s right, oke mom.. don’t worry be happy!”, he he cah ndeso wae pake Bahasa Inggris. Maklum kalo ibuku senantiasa khawatir, secara 30 tahun jadi seorang guru yang pengin anaknya juga digugu lan ditiru.
Setahun berselang ketika pulang kampung pas lebaran. Suasana ceria berubah jadi hampa, karena sengsara juga mendapati kulkas di rumah rusak, musim panas pula. So, ada inisiatif lah beliin kulkas baru buat ibu, kulkas polytron satu pintu seharga sejuta dua ratus. Barang pertama yang aku persembahkan untuk ibuku tercinta. Secara gaji saat itu belum ada sejuta, yang pas-pasan buat makan, bayar kost dan beli pulsa setiap bulannya… gimana caranya? Kok bisa beliin kulkas? Ya bisa dong…orang pajak gitu lohh he he….
“Ati-ati yo le, kerjo ga usah ‘neko-neko’..bla..bla..bla

” itu lagi pesen ibuku ketika aku balik lagi ke Jakarta. ‘’Oke deh mom…” jawabku sambil tersenyum. Dalam ati, dikit-dikit ga papalah, Bu (beneran cuma dikit kok kalo ‘Jumat ceria’.. ya kan ? Kan ya ? he he).
Waktu terus berlalu, mengalir seperti air… aku ikuti aliran air mau kemana, namanya juga semut prajurit, ikut aturan main aja. Dapet bagian diterima, ga dapet bagian ya cari sendiri he he. Yang rakus biarlah rakus, yang lurus biarlah lurus. Begitulah diriku, kadang rakus kadang lurus. Seolah-olah balita yang kadang ngompol ga tahan mo pipis, padahal tahu kalo ngompol pasti diomelin emaknya (nyambung ga sih? he he). Seperti balita yang corat-coret tembok asik aja padahal bapaknya bakal uring-uringan (tambah ga nyambung deh…). Semua terjadi sebagai kompilasi antara coba-coba, ikut-ikutan, tantangan, kebutuhan, pencapaian dan akhirnya ketagihan. Begitu analisisku untuk cari pembenaran. Meski “ati-ati yo le, kerjo ga usah ‘neko-neko’..bla bla bla” selalu terngiang.
Sampai pada akhirnya kutemukan jodohku di tahun 2003, satu komunitas juga denganku, orang pajak juga. Asik nih, tapi…gawat juga nih. Kalo sampe dosa, bisa jadi dosa kuadrat! Orang bijak taat pajak, orang pajak bijak-bijak, tapi paling bijak: kawin sama orang pajak! He he… Bermodal 5 juta duitku 5 juta duitnya, menikahlah kami…dan ga usah ditanya duit itu dari mana…?
Bermodal kasur dan kompor di dapur di sebuah kontrakan, kami buka lembaran baru. Mengarungi samudra kehidupan; TV 14 inch setia menemani kami, naik motor berstiker FIF kemana kami pergi, asik sekali kami pikir saat itu. Lama-lama capek juga. Enak juga kali ya kalo punya mobil? He he lagi-lagi masalah pencapaian dan harga diri. Belum juga kebeli…ya sudahlah ikhtiar aja terus.
Akhir 2004 lahirlah putri pertama kami. Setiap kali aku ngaca, bertanya-tanya, anakku mirip aku apa ibunya ya. Yang pasti wajahnya mirip orang pajak lah.. he he! Dan saat itu berharap agar nantinya anakku tidak seperti kebanyakan orang pajak. Sejak kelahiran putriku, dikit-dikit makin rajin aku ikut-ikutan baca buku religi yang dibeli istriku, dan minimal lebih bisa nahan ngantuk pas pak khotib kasih khotbah tiap Jumat. Suatu saat ada khotib yang bilang, “korupsi, kolusi itu godaan setan, yang berbuat berarti setan, hasilnya akan dimakan oleh anak-anak setan!” Wowowo…mosok anakku yang cantik itu dibilang setan! Enak ajjaah..huh!
Terlahir dari keluarga pegawai negeri sederhana, dari kampung yang nun jauh di sana, hanya ingin menikmati sekolah gratis (tapi lulusannya bisa kawin ma artis ). Dalam hati ini sebenarnya hanya ingin hidup nrimo apa adanya, setelah lulus kuliah jadi pegawai negeri, dapet gaji dan hidup sederhana sewajarnya. Ada penolakan sebenarnya dalam hati ini, ketika pada saat itu menerima dan pada akhirnya berharap menerima tanda terima kasih, uang lelah, “jumat ceria”, atau apapun namanya. Tapi apa boleh buat, jemaah yang lain juga berbuat hal yang sama, bahkan Jumat-nya lebih ceria. Hanya bisa berdoa, berilah hamba-Mu ini rejeki yang halal dan…. buanyak ya Allaaaah.
Pada akhirnya terdengar sayup-sayup kabar gembira, akan didirikan sebuah kantor pajak, Wajib Pajaknya besar-besar, pegawainya hasil seleksi dengan gaji plus tunjangan yang menggiurkan, dan satu lagi pegawainya jelas-jelas dilarang korupsi. Wow kereeen…!!
Ternyata bukan sekedar isu, tapi beneran! Alhamdulillah ada secercah harapan. Berangan-angan sama dengan seorang teman, seandainya begini, seandainya begitu, semuanya halalan toyyiban! Sampai pada akhirnya tiba di ujung penantian. Penantian akan sebuah harapan baru, sistem yang baru, penghasilan yang…nih baruuu halaaal. Ada harapan untuk bisa lebih nyaman mengaktualisasikan diri untuk bangsa ini…ckckck…!!
Sebuah penantian panjang bagi institusi ini hingga pajak bisa menjadi seperti saat ini. Aku…, apalah artinya aku. Hanya semut prajurit pelaksana. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kebijakan bapak – ibu ratu semut di atas sana. Aku yakin ada harga yang harus dibayar, harga yang sangat mahal yang dikorbankan beliau-beliau ini yang membuat pajak bisa menjadi seperti ini. Bersama-sama kita, semut-semut yang membawa butir-butir gula ini seluruhnya untuk kesejahteraan bangsa. Toh kalo bangsanya sejahtera, orang-orang pajaknya dah pasti sejahtera toh? Sedikit banyak memang relatif, yang penting halal!
Terima kasih Ibu…, Ibu termasuk satu dari sekian banyak orang tua yang senantiasa mendoakan anaknya, orang-orang pajak ini, untuk bisa hidup dalam keberkahan. Doa Ibu juga sehingga pajak bisa menjadi seperti ini.
“Ati-ati yo le, kerjo ga usah ‘neko-neko’, sak madya wae, sing penting halal…’’ terima kasih ya bu…I miss u.. I love u.

5 Tanggapan

  1. Ikut meramaikan mas, silakan download buku Berkah: Berbagi Kisah & Harapan Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak di sini: http://www.mediafire.com/?nywozw220cn

  2. pajak tidak sama dengan zakat…akhi…

    semoga Allah subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan Anda untuk mencari rizqi dari jalan yang barokah,…karena bumi Allah itu luas…..

    Wallaahul Musta’an..

    Jazakallah khoir atas doanya

  3. hm…hm…selama da kemauan pasti bisa mewujudkan lembaga yg bersih. Smangat kawan! pajak adalah salah satu sarana mensejahterakan masyarakat maka alokasinya harus pada tempat yang benar.

  4. semoga kita semua beroleh reski yang halal selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: