Surat Untuk Kang Rhoma

Mulai postingan ini saya akan menampilkan secara berseri tulisan-tulisan dari buku yang sangat inspiratif

“Berkah: Berbagi Kisah & Harapan Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak”

Tulisan-tulisan  dalam buku ini dibuat oleh pegawai pajak dari seluruh tanah air berisi tentang kisah dan harapan mereka tentang modernisasi pajak yang saat ini sedang berlangsung.

Semoga bermanfaat…

Jakarta, 16 September 2009

Teruntuk :
Kang Rhoma,
Sahabat lamaku
di bumi Allah

Apa kabarmu, Kang? Masih inget aku kan? Aku, Kuncung, temen satu seksimu dulu. Lama sekali kita tidak berjumpa. Sekarang aku sudah mempunyai dua anak lho, laki-laki semua. Gimana denganmu, Kang? Tentunya sudah banyak juniormu?
Kang, masih ingat gak, ketika kita masih bujangan. Kita bisanya cuma cengar-cengir aja ketika ada akhwat yang menggetarkan hati lewat di depan kita. Haha, gak nyangka ya, akhirnya kita diberikan keberanian untuk melamar gadis pilihan kita masing-masing.
Aku masih sering lho, mengingat-ingat kebersamaan kita. Saat kita bersama tinggal di mess kantor yang kumuh itu. Aku juga masih ingat ketika kantor kita kebanjiran tahun 2002. Aku dulu gak habis pikir dengan caramu berpikir. Kenapa saat itu kok kamu mau kembali ke kantor, menyelamatkan peralatan kantor saat kantor kita kelelep air setinggi dua meter. Emangnya kamu digaji berapa? Kenapa kamu gak mengeluh? Kamu dulu saat dimarahi kok tidak terlihat sedih atau marah? Oya, makasih ya, sudah merawatku saat aku jatuh dari motor beberapa waktu sebelum kejadian banjir itu.
Kang, gimana kuliahmu? Dulu kan kamu pernah cerita, katanya diketawain ketika minta diskon biaya kuliah. Dikira aneh ya, pegawai pajak kok minta diskon biaya kuliah, padahal kan harusnya banyak duitnya. Masa sih, malah minta keringanan SPP. Tapi, aku sih maklum aja, karena kan kampusmu tidak tahu pribadimu.
Aku dulu tidak sekuat dirimu, Kang. Malah bisa dikatakan mengalami double personality. Untungnya aja gak sampai jadi psikopat (amit-amit deh). Kadang bisa jadi orang baik dan jujur, tapi kadang larut dalam kekacauan. Ingat gak Kang, aku pernah nolak uang dari Wajib Pajak yang mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), tapi saat itu malah agak aneh rasanya.
Ingat Kang Gembul, temen kita yang agak botak? Dialah yang mengajakku bangkit dari kekalutan saat di kantor. Dia yang mencarikan aku pekerjaan sambilan lho. Kecil-kecilan sih, cuma membuat laporan keuangan. Saat itu aku mau aja ngambil pekerjaan itu karena hanya membuat jurnal dari bukti transaksi yang berserakan. Maklum, saat itu petugas akuntingnya berhenti jadinya tidak ada yang mem-posting. Dulu sih mikirnya gini: daripada melakukan kejahatan di kantor mending menjual kemampuan tanpa melakukan rekayasa. Tapi, sekarang hal itu dilarang. Eh, sebenarnya sih dilarang dari dulu, hanya saja, sekarang jelas sekali aturannya dalam buku kode etik.
Tapi dari Kang Gembul itulah aku mulai mendapat pencerahan. Tahu gak, dia dulu sebenarnya kan “jagoan” lho. Tapi lebih dulu insyaf. Pernah lho, dia bilang gini,”Kuncung, sebagai kakak kelasmu, aku bisa saja membuatmu lebih dahsyat daripada aku. Kamu kan lebih tahu akuntansi daripada aku, pasti jika aku ajarin sedikit, hasilnya akan luar biasa. Itu jika kamu bertemu aku sebelum sekarang. Tapi sekarang aku gak mau ngajarin kamu, Cung. Aku gak mau ada yang mewarisi ajian sesatku. Nanti aku ikut kualat. Aku sudah berhenti, Cung!”
Sejak dia bilang begitu, aku jadi lebih mantep, Kang. Aku jadi tahu kenapa kalian kok terlihat akrab, gitu. Ternyata kalian satu pandangan tho? Tapi sejak itu aku jadi kadang-kadang pergi dari kantor saat jam kerja. Inget gak? Aku sih gak pernah bilang ke kamu, tapi sebenarnya aku punya kerja sambilan, ndesain sistem dan ngasih konsultasi perpajakan ke perusahaan yang baru berdiri. Tapi untungnya tidak ada yang macem-macem dari klienku dan bukan WP di kantorku. Habisnya kalau tidak seperti itu, aku gak bisa nabung. Wah, kalau di zaman modernisasi kayak gini, pekerjaanku dulu jelas terlarang meskipun tidak merugikan negara, tapi akan muncul konflik kepentingan.
Gara-gara ketemu kalian, aku dulu pernah bertarget pada Kang Gembul, ”Targetku setelah ini adalah, 80% hartaku harus berasal dari yang halal.” Sekarang semua sudah beda ya Kang. Ketika ada modernisasi, target 80% dari yang halal harus aku revisi, Kang. Setelah membuang yang tidak halal di masa lalu, aku harus bertarget 100% halal. Alhamdulillah, sekarang suasana juga nyaman ya, Kang. Tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk berbuat jujur. Gak perlu lagi double personality. Sekarang aku yakin Kang Rhoma sudah tidak terasing lagi, kan? Sekarang semuanya sudah kayak Kang Rhoma semua, jujur semua. Sistemnya juga sudah mendukung. Dah ada kode etik, ada remunerasi dan ada penegakan hukum. Aku juga gak perlu lagi kerja sambilan, apalagi yang harus menimbulkan konflik kepentingan kayak dulu. Sudah gak perlu ngabur-ngabur saat jam kerja. Rasanya gak pantes lagi kalau kerja gak bener.
Mudah-mudahan Kang Rhoma jadi tambah semangat kerjanya dengan modernisasi ini. Bisa meneruskan kuliah lagi tanpa harus meminta keringanan SPP dan bisa meneruskan usaha jualan berasnya. Oya, satu lagi Kang, bisa beli koin dinar lagi karena ternyata koin dinar yang kita beli dulu di tahun 2002, sekarang nilainya dah naik 250%! Sayangnya kita cuma beli 1 koin aja ya? Abisnya, mana ada duit saat itu? Hehe…
Makasih ya Kang, dengan mengenalmu, bagian hidupku lebih berarti. Kang Rhoma dan Kang Gembul ternyata lebih dulu “modern” meskipun saat itu belum mulai modernisasi di instansi kita. Nilai-nilai organisasi yang sekarang ada, ternyata lebih dulu kalian punyai. Masa sekarang ini adalah masa kemenanganmu Kang, yang juga jadi masa kemenangan kita bersama. Tapi ingat ya Kang, meski dalam masa kemenangan harus tetap bersyukur dan terus berkomitmen.
Sampai ketemu ya Kang. Salam buat Kang Gembul jika ketemu dengannya.
Wassalamualaikum wr.wb.

Teman karibmu,

Kuncung

3 Tanggapan

  1. Saya suka dengan nilai-nilai yang tersirat dalam tulisannya ^_^

  2. bagus
    lebih banyak artikel seperti ini kang
    Insya Allah saya jd penerus hehe

  3. hahahaha…….
    ternyata dulu agak “nakal” juga
    tapi skarang udah insyaf,,
    itu kisah nyata om-ku (,,yg menamai dirinya sendiri kuncung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: