Akuntansi Biaya Berbasis Syariah

Tulisan ini saya buat sekitar bulan Agustus 2008 dalam rangka memenuhi tugas resume Cost Accounting dari Dosen Cost Accounting saya, Ibu Retno Utari.Beliau meminta kami untuk membuat resume tentang cost accounting.  Waktu itu saya bingung mau buat resume tentang apa. Akhirnya muncul ide untuk membuat resume tentang Akuntansi Biaya berbasis Syariah. Dalam mencari referensi saya mengalami kesulitan karena sedikitnya literatur tentang syariah accounting, terlebih lagi tentang sharia cost accounting bisa dikatakan tidak ada. Sehingga dalam membuat resume ini, saya banyak menggunakan teori-teori yang saya ciptakan sendiri. Karena terbatasnya ilmu yang saya miliki maka pasti di dalam tulisan ini banyak kesalahannya. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga bermanfaat

Ttd,

Arief Wibowo

Penulis saat ini berstatus sebagai

Mahasiswa D3 Akuntansi Pemerintahan semester V

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

PENDAHULUAN

Tidak banyak orang yang tahu bahwa akuntansi sudah diajarkan oleh oleh Islam enam abad sebelum seorang pendeta Italia bernama Luca Pacioli menulis buku “Summa de Arithmatica Geometria et Propotionalita” dengan memuat satu bab mengenai “Double Entry Accounting System”. Apabila kita pelajari sejarah Islam ditemukan bahwa setelah munculnya Islam di Semenanjung Arab di bawah pimpinan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan terbentuknya Daulah Islamiyah di Madinah yang kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin, Daulah Umayyah, dan daulah setelahnya terdapat undang-undang akuntansi yang diterapkan untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi wakaf, hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara khusus beberapa sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan “hafazhatul amwal” (pengawas keuangan). Bahkan Al Quran sebagai kitab suci umat Islam menganggap masalah ini sebagai suatu masalah serius dengan diturunkannya ayat terpanjang , yakni surah Al-Baqarah ayat 282 yang menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan transaksi, dasar-dasarnya, dan manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum yang harus dipedomani dalam hal tersebut. Sebagaimana pada awal ayat tersebut menyatakan “Hai, orang-orang yang beriman apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya………”

Akuntansi dalam konsep Syariah Islam dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen, yang disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang Akuntan dalam pekerjaannya, baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan, maupun penjelasan, dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.

Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al Quran, As Sunnah, Ijma (kespakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu, dan ‘Uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah, memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi Konvensional. Dalam Akuntansi Syariah tidak hanya melihat dari sudut pandang kuantitatif tetapi juga melihat dari kualitatif.

Andriana (2007) mengutip Husein Syahatah, dalam buku “Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam” antara lain terdapat pada hal-hal sebagai berikut:

  1. Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok (nsure) belum ditentukan. Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas;
  2. Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar), sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang;
  3. Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau sebagi sumber harga atau nilai;
  4. Konsep konvensional mempraktekkan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin, sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko;
  5. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram, sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari nsure (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal;
  6. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli, sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu nsurea ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa perbedaan akuntansi konvensional dengan akuntansi syariah sangatlah mendasar. Perbedaan ini menurun pula pada cabang-cabang dari ilmu akuntansi tak terkecuali pada Akuntansi Biaya. Pada paper ini penulisakan membahas tentang beberapa konsep dasar dari akuntansi biaya berbasis syariah, persamaan, perbedaan, prospek, tantangan, hambatan, dan solusinya.


BAB 2

KONSEP DASAR AKUNTANSI BIAYA BERBASIS SYARIAH

1. Definisi Biaya

Carter dan Usry (2004, 29) mengutip Sprouse dan Moonitz yang mendefinisikan biaya sebagai “nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan untuk memperoleh manfaat. Dalam akuntansi keuangan, pengeluaran atau pengorbanan pada saat akuisisi diwakili oleh penyusutan saat ini atau di masa yang akan datang dalam bentuk kas atau aktiva lain.”

Dalam konsep Islam sesuatu dianggap biaya jika pengeluaran itu telah benar-benar dikeluarkan untuk kepentingan tersebut. Hal ini karena akuntansi syariah menganut cash basis dalam perhitungannya sehingga pengeluaran yang belum benar-benar dikeluarkan tidak dapat diakui sebagai biaya.

2. Anggaran

Anggaran menurut Carter dan Usry (2004, 13) pernyataan terkuantifikasi dan tertulis dari rencana manajemen. Anggaran berisi rencana pendapatan dan pengeluaran perusahaan dalam satu periode.

Dalam konsep Islam, anggaran merupakan cerminan niat dari perusahaan. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda “ Sesungguhnya tiap amal tergantung dari niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari anggaran ini dapat dilihat tujuan perusahaan dan cara-cara yang akan ditempuhnya untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu sudah sejak proses penganggaran tidak ada hal-hal yang menyimpang dari syariat Islam.

3. Penetapan Harga

Penetapan harga jual dipengaruhi oleh berbagai aspek diantaranya adalah aspek biaya. Islam tidak melarang manusia untuk mengambil laba. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 198 “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari keutamaan(rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu”. Akan tetapi Islam melarang umatnya dari mengambil keuntungan yang melebihi kewajaran. Misalkan biaya yang dikeluarkannya 100 rupiah tetapi dia menjualnya seharga 10.000 rupiah. Dia memperoleh keuntungan yang sangat banyak tetapi untuk itu dia mendzalimi pembelinya. Hal ini tidak dibenarkan dalam Islam

4. Traceability Biaya ke Obyek Biaya

Kemampuan untuk menelusuri biaya ke obyek biaya sangat penting dalam konsep syariah. Dari sini dapat diketahui modal mana yang digunakan untuk membiayai proyek yang mana sehingga pembagian hasil/labanya dapat tepat dan memenuhi unsur keadilan.


BAB 3

PERBEDAAN AKUNTANSI BIAYA KONVENSIONAL DENGAN AKUNTANSI BIAYA BERBASIS SYARIAH

1. Klasifikasi Biaya

Pada akuntansi biaya konvensional,biaya secara umum diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:

1. Biaya Tetap : biaya yang jumlahnya tetap meskipun aktivitas bisnis naik atau turun.

2. Biaya Variable: biaya yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan aktivitas bisnis.

3. Biaya Semivariable: biaya yang memiliki karakterisktik biaya tetap dan variable.

Dalam Islam harus ada kejelasan tidak boleh ada unsur yang samar (gharar) sehingga penetapan biaya dilakukan per aktivitas. Contohnya pada aktivitas A. Perhitungan biayanya dirinci sesuai dengan biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk aktivitas tersebut. Sehingga nanti akan ada Biaya tetap aktivitas A, Biaya variable aktivitas A, Biaya Semi variable aktivitas A. Yang jadi masalah adalah sulitnya untuk menentukan secara tepat berapa biaya tetap yang benar-benar terpakai untuk suatu aktivitas. Allah berfirman “ Bertakwalah kepada Allah semampu kalian”. Allah juga berfirman “Allah tidak akan membebani manusia apa-apa yang tidak dapat dipikulnya”. Oleh karena itu sedapat mungkin harus dicari biaya yang benar-benar terpakai baik dengan metode High and Low Point, metode Scattergraph, atau dengan metode Kuadrat Terkecil. Nantinya jika jumlahnya tidak benar-benar tepat, maka tidak mengapa.

2. Sistem Perhitungan Biaya

Pada akuntansi biaya konvensional dikenal empat macam sistem perhitungan biaya yaitu:

1. Job Order Costing : biaya diakumulasikan untuk setiap batch, lot, atau pesanan pelanggan.

2. Process Costing: biaya diakumulasikan berdasarkan proses produksi atau berdasarkan departemen.

3. Metode Campuran : campuran dari job order costing dan process costing

4. Backflush Costing : biaya diakumulasikan secara sangat cepat seperti pada sistem just in time yang sudah matang.

Dalam Akutansi Islam lebih ditekankan pada darimana pembiayaan proses produksi barang/jasa. Produksi suatu barang/jasa harus qath’i (jelas) darimana biayanya. Misalkan dalam produksi barang A digunakan 100% dari modal Tuan A. Sedangkan pada produksi barang B, dananya 50% dari Tuan Fulan 50% dari Tuan Allan.. Hal ini akan menentukan besarnya jumlah bagi hasil yang diberikan pada tiap-tiap pemilik modal.

Hal di atas adalah perhitungan yang ideal. Perhitungan ini mudah dilakukan pada entitas-entitas bisnis berskala kecil yang kegiatannya masih sederhana. Tapi bagaimana dengan entitas bisnis berskala besar yang modalnya berasal dari puluhan atau bahkan ratusan orang? Pengklasifikasian ini tentu akan sangat sulit. Maka kita kembali pada ayat “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian” Sedapat mungkin dilakukan pengklasifikasian per aktivitas, jika tidak bisa maka pembagian proporsi hasil usaha dilihat dari jumlah total aktivitasnya

Yang harus diperhatikan disini adalah modal yang berasal dari utang baik utang jangka panjang maupun utang jangka pendek. Islam tidak melarang utang tapi juga tidak menganjurkannya. Rasulullah pernah tidak mau menyalatkan seseorang karena orang tersebut mati dalam keadaan memiliki utang. Sehingga sedapat mungkin dihindari berhutang. Apalagi jika utang tersebut mengandung unsure riba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan riba, memberi riba, juru tulisnya dan dua saksinya. Beliau mengatakan: ‘Mereka itu sama’ Tidak boleh menggunakan utang yang mengandung unsur riba untuk aktivitas perusahaan. Bagaimana jika sebagian aktivitas perusahaan terlanjur dijalankan dari utang? Maka harus dijelaskan secara jelas berapa jumlahnya dan digunakan dimana. Kemudian nanti hasilnya dibagi sesuai proporsi pembiayaan dari utang maupun pembiayaan dari pemilik modal. Proporsi hasil yang berasal dari utang dipisahkan dari laba perusahaan yang dibagi pada para pemilik modal. Laba dari utang ini sebaiknya disumbangkan untuk kegiatan sosial maupun keagamaan.

3. Jenis-jenis Biaya yang Tidak Dapat Diakui

Pada akuntansi konvensional segala macam pengeluaran atau pengorbanan ekonomis yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan, baik berhubungan langsung maupun tidak langsung dapat diakui sebagai biaya. Dalam akuntansi syariah tidak tiap pengeluaran bisa dianggap sebagai biaya. Pengeluaran yang tidak sesuai dengan syariat Islam tidak dapat diakui sebagai biaya. Contohnya :

· Pembelian barang haram seperti alkohol,babi,narkoba,rokok,dll

Islam melarang jual beli barang-barang yang haram. Misalkan perusahaan membeli alkohol untuk suatu keperluan. Pengeluaran yang dikeluarkan untuk mendapatkan alkohol itu tidak dapat dianggap sebagai biaya tetapi dianggap sebagai rugi karena Islam melarang pemanfaatan alkohol meskipun tidak diminum. Rasulullah dulu memerintahkan para sahabatnya agar membuang/menumpahkan khamr (minuman beralkohol). Para sahabat protes dengan alasan khamr ini tidak diminum dan hanya digunakan untuk hal lain..Akan tetapi Rasulullah tetap memerintahkan untuk membuangnya. Dari kisah ini dapat disimpulkan larangan membeli,menjual, memanfaatkan sesuatu yang haram.Pelakunya mendapatkan dosa dan kerugian di dunia maupun akherat.

· Asuransi

Hai`ah Kibaril Ulama ( Majelis Ulama Besar) dan Majma’ Al-Fiqh Al-Islami (Dewan Fiqh Internasional) menetapkan haramnya seluruh jenis asuransi yang berjalan dengan sistem perdagangan, baik itu asuransi jiwa, barang, atau yang lainnya karena mengandung unsur untung-untungan atau judi. Bagaimana jika asuransi ini diwajibkan pemerintah atau perusahaan terlanjur membayar premi asuransi? Jika mendapatkan klaim perusahaan hanya boleh mengambil pokok asuransi yang dibayarkannya sisa lebihnya diinfakkan untuk umat. Sementara jika tidak mendapatkan klaim, pengeluaran yang dibayarkan pada perusahaan asuransi dianggap sebagai kerugian.

· Biaya suap

Risywah (Suap) dalam Islam diharamkan. Rasulullah melaknat orang yang menyuap maupun orang yang disuap. Pengeluaran yang dikeluarkan tidak dapat diakui sebagai biaya tetapi dianggap sebagai kerugian. Hal ini tidak berlaku jika perusahaan melakukan suap karena terpaksa, jika tidak menyuap maka perusahaan tidak mendapatkan haknya. Pengeluaran ini dapat dianggap sebagai biaya.

· Infak, Sedekah,Wakaf,

Dalam konsep Islam segala pengorbanan kita baik itu berupa materiil maupun non materiil bukanlah sebagai biaya. Akan tetapi dianggap sebagai investasi. Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 261 “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Dari ayat ini dapat disimpulkan pengeluaran yang dilakukan di jalan Allah kelak akan mendapatkan gantinya sebesar 700 kali lipat.

· Pembayaran bunga bank

Sudah sangat jelas bahwa bunga bank termasuk riba yang haram. Oleh karena itu tidak dapat dianggap sebagai biaya tetapi sebagai kerugian.

· Zakat

Pembayaran zakat tidaklah dapat dianggap sebagai biaya karena sejak mulanya harta yang dizakatkan itu bukanlah milik perusahaan tetapi milik orang-orang yang berhak dizakati baik itu fakir miskin dan selainnya. Oleh karena itu pembayaran zakat tidak dihitung sebagai biaya tetapi dihitung sebagai pengembalian asset milik orang lain.

· Aktivitas yang bertentangan dengan syariat Islam

Segala macam tindakan yang tidak dibenarkan oleh Islam yang dilakukan perusahaan tidak dapat dianggap sebagai biaya tetapi dianggap sebagai kerugian.

BAB 4

PROSPEK DAN TANTANGAN AKUNTANSI BIAYA BERBASIS SYARIAH

Perkembangnya akuntansi syariah beserta cabang cabangnya cukup signfikan dewsa ini. Kebutuhan dari para praktisi ekonomi syariah akan akuntansi syariah amat besar. Tidak hanya kaum muslimin saja yang membutuhkan akuntansi syariah tetapi juga masyarakt dunia secara umum. Saat ini orang sudah mulai jenuh dengan sistem akuntansi konvensional buatan Barat yang notabene cenderung materialsitis kosong dari ruh spiritualisme.

Perkembangan akuntansi syariah menuntut pula perubahan pada cabang-cabang dari ilmu akuntansi tak terkecuali pada Akuntansi Biaya. Kebutuhan adanya suatu sistem akuntansi biaya yang berbasis syariah sangatlah besar.

Hambatan-hambatan berkembangnya akuntansi biaya berbasis syariah:

a) Hingga saat ini sedikit sekali orang yang memberikan atensi khusus pada hal ini. Kebanyakan ahli dalam akuntansi syariah memfokuskan pembahasannya pada pada laporan keuangan saja, tidak pada proses kegiatannya. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa sebagian besar buku tentang akuntansi syariah membahas tentang laporan keuangan. Juga pada PSAK 59 dan PSAK 101-106 pokok bahasannya pada laporan keuangan. Padahal akuntansi tidak hanya sekedar laporan keuangan saja tetapi juga seluruh proses yang berkesinambungan dari penjurnalan hingga pelaporan keuangan.

b) Orang juga masih ragu untuk memakainya. Hal ini terjadi karena belum adanya standar yang baku dalam akuntansi biaya berbasis syariah.

c) Perbedaan persepsi antara akuntansi syariah aliran pragmatis dan aliran idealis


BAB 5

PENUTUP

Akuntansi biaya berbasis syariah bukanlah mimpi tetapi ini merupakan suatu realita seperti Akuntansi Syariah itu sendiri. Seperti sistem yang lainnya tentu ada saja kekurangan hambatannya. Peran para ahli untuk menemukan formula yang tepat sangatlah dibutuhkan. Begitu pula yang paling penting peran dari praktisi-praktisinya.

Penulis menyadari dalam paper ini masih banyak sekali kekurangannya. Hal ini disebabkan yang utama karena kurangnya pengetahuan yang ada pada penulis dalam masalah akuntansi secara umum dan akuntansi syariah secara khusus. Selain itu juga karena sulitnya menemukan referensi tentang akuntansi biaya berbasis syariah sehingga penulis banyak berimprovisasi. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian.

Akhirul kata, kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan itu datangnya dari diri penulis sendiri.

Wassalamualaikum

DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’an dan Terjemahannya. [2005]. Jakarta: PT. Syamil Cipta Media

Assadi, Djamsid. 2003. Do Religion Influence Costumer Behaviour. http://www.escdijon.com

Atsqalani, Ibnu Hajar Al. 1992. Bulughul Maram min Adilatil Ahkam. Surabaya: Putra

Almaa’rif

Carter, William K., dan Milton F. Usry. 2004. Akuntansi Biaya. Jakarta:

Salemba Empat

Economic Cooperation Among Muslim Countries and Possibility of Islamic Common Market. Yogyakarta: UII

Ikatan Akuntan Indonesia. 2006. PSAK 101-106. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia

Kahf, Monzer. Waqf and Its Sociopolitical Aspects.pdf version

Mengenal Prinsip Akuntansi Syariah. http://f-andriana.blogspot.com/2007/10/mengenal- prinsip-akuntansi-syariah.html (diakses 9 Agustus 2008)

Mulawarman, Aji Dedi. Akuntansi Syariah 1. http://akuntansi-syariah.blogspot.com/2008/02/pengantar-akuntansi-syariah-bagian-1.html

Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Sharaf An. 2006. Hadits Arbain An Nawawiyah. Jakarta: I’tishom Cahaya Umat

Shariah Stock Screening. Yogyakarta: UII

The Concept of Rationality in Islamic Economics. Yogyakarta: UII

The Methodology of Isecs. Yogyakarta: UII

Riba and Gharar. Yogyakarta: UII

Market and Price Theory in Islam. Yogyakarta. UII

www.darussalaf.org versi CHM

www.tazkiaonline.com

www.salafy.or.id versi CHM

12 Tanggapan

  1. Gak nyangka lo bisa bikin artikel kayak gini riph.Hehe

    HEHEHE. TUNGGU AJA ARTIKEL SELANJUTNYA

  2. tulisan bagus…

  3. Wah, resume yang bagus tentang apa itu akuntasi syari’ah….

  4. rif…ni arif mana ya???apa arif yang punya jenggot yang lebat itu??
    btw…webnya bagus banget…

    o iya rif..bales aja ke imel ku ato ke fs…ato fesbuk…

    Bukan arif yang itu. baca saja profil saya di fb. Makasih buat kunjungannya

  5. sukran a’la ma’lumatahu

  6. bagi info lagi dong tentang Just In Time dan Back Flushing konvensional maupun yang syariah.

  7. salam kenal kang arif.
    bisa bantu aku g dalam penyusunan skripsiku. aku butuh informasi mengenai penganggaran berbasis syariah.
    aku tunggu yach.
    tq

  8. kalau punya informasi mengenai anggaran syariah.mohon kabari aku via email yach.
    salam kenal
    tq

  9. like this..
    hmm..ntar pjem referensinya y..
    lg mulai tertarik ekosyar..jd pgn blajar banyak..

    Insya allah bu nisa.

  10. mas ok..ok.. sip

  11. bagus juga

  12. saya sangat menyukai artikel semcm ini. Harapn z dgn adanya artikel ini bisa membnt z dlm memhm akuntansi biaya syariah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: